Refleksi Yesaya 2:1-5 - PKB, PW, & PAM

Refleksi Yesaya 2:1-5 - PKB, PW, & PAM

Refleksi dari Kitab Yesaya 2:1-5

Untuk Persekutuan Kaum Bapak (PKB), Persekutuan Wanita (PW), dan Persekutuan Anggota Muda (PAM) --- Sebelum membaca refleksi disarankan membaca Latar belakang dan Exegese Kitab Yesaya 2:1-5 ➠➠➠ DI SINI

Tema: “Mari, Naik ke Gunung TUHAN”

Yesaya 2:1-5 (TB)

1. Firman yang telah dinyatakan kepada Yesaya bin Amos tentang Yehuda dan Yerusalem.

2. Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di atas gunung-gunung yang lain dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana,

3. dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: “Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuh jalan itu. Sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem.”

4. Ia akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa; maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang.

5. Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang TUHAN!

👨

Refleksi Persekutuan Kaum Bapak (PKB)

Tema: “Mari, Naik ke Gunung TUHAN”

Pendahuluan

Bapak-bapak yang dikasihi Tuhan,

Ketika kita berkumpul dalam Persekutuan Kaum Bapak, kita diingatkan bahwa sebagai kepala keluarga, kita dipanggil untuk menjadi pemimpin rohani. Kita tidak hanya bekerja mencari nafkah, tetapi juga membimbing keluarga kita kepada Tuhan. Yesaya 2:1-5 memberikan kepada kita sebuah visi yang indah tentang apa yang Tuhan kehendaki bagi umat-Nya, dan bagaimana kita sebagai bapak-bapak dapat mengambil bagian di dalamnya.

Nabi Yesaya menyampaikan firman Tuhan pada masa yang penuh gejolak. Bangsa Israel hidup dalam ancaman perang dan ketidakpastian. Namun di tengah situasi itu, Tuhan memberikan penglihatan tentang masa depan yang penuh damai dan pengharapan. Firman ini bukan sekadar janji jauh, tetapi panggilan nyata bagi kita hari ini.

1. Gunung TUHAN yang Ditinggikan (Ayat 2)

Yesaya melihat bahwa pada hari-hari yang terakhir, gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di atas gunung-gunung yang lain. Gunung dalam Alkitab sering melambangkan kekuatan, kekuasaan, dan tempat perjumpaan dengan Allah. Di sini, gunung TUHAN ditinggikan—artinya Allah dan kerajaan-Nya jauh lebih tinggi dan berkuasa dari segala sesuatu di dunia ini.

Sebagai bapak-bapak, kita sering menghadapi “gunung-gunung” dalam hidup: masalah ekonomi, tekanan pekerjaan, konflik keluarga, dan godaan dunia. Namun firman Tuhan mengingatkan kita bahwa gunung TUHAN—hadirat dan kuasa-Nya—lebih tinggi dari semuanya. Jika kita mengutamakan Tuhan, Dia akan meninggikan hidup kita dan keluarga kita.

Pertanyaan bagi kita: Apakah kita sudah menjadikan Tuhan sebagai prioritas utama dalam keluarga? Apakah “gunung” masalah kita terlihat lebih besar daripada gunung TUHAN?

2. Panggilan untuk Naik dan Belajar (Ayat 3)

Ayat 3 menggambarkan banyak suku bangsa yang saling mengajak: “Mari, kita naik ke gunung TUHAN... supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya.” Ini adalah panggilan untuk bertumbuh dalam iman, untuk naik lebih tinggi secara rohani, dan untuk belajar dari Tuhan.

Sebagai kaum bapak, kita dipanggil untuk menjadi murid-murid Kristus yang terus belajar. Kita tidak boleh merasa cukup dengan pengetahuan rohani yang dangkal. Kita perlu mendalami Firman Tuhan, berdoa, dan mencari kehendak-Nya. Dengan demikian, kita dapat mengajar keluarga kita tentang jalan-jalan Tuhan.

Panggilan ini bersifat komunitas: “Mari kita naik.” Artinya, kita tidak berjalan sendiri. Persekutuan Kaum Bapak adalah wadah di mana kita saling menguatkan, saling mendoakan, dan saling mengingatkan untuk naik lebih tinggi dalam iman.

Pertanyaan bagi kita: Sudahkah kita memiliki kerinduan untuk terus belajar Firman Tuhan? Apakah kita aktif mengajak keluarga dan saudara seiman untuk bersama-sama mencari Tuhan?

3. Damai Sejahtera dan Rekonsiliasi (Ayat 4)

Ayat 4 adalah gambaran indah tentang damai sejahtera: pedang ditempa menjadi mata bajak, tombak menjadi pisau pemangkas. Bangsa tidak lagi mengangkat pedang dan tidak lagi belajar perang. Ini adalah visi tentang rekonsiliasi dan kehidupan yang produktif.

Dalam konteks kaum bapak, “pedang” dan “tombak” bisa melambangkan kata-kata kasar, kemarahan, egoisme, dan konflik dalam keluarga. Tuhan ingin kita mengubahnya menjadi “mata bajak” dan “pisau pemangkas”—alat yang membangun, menumbuhkan, dan menghasilkan buah yang baik.

Sebagai kepala keluarga, kita dipanggil untuk menjadi pembawa damai. Rumah kita harus menjadi tempat di mana kasih dan pengampunan bertumbuh, bukan tempat pertengkaran dan kekerasan. Ketika kita menyerahkan hidup kepada Tuhan, Dia akan mengubah konflik menjadi berkat.

Pertanyaan bagi kita: Apakah kita masih menyimpan “pedang” dalam hati terhadap pasangan atau anak-anak kita? Apakah kita sudah menjadi pembawa damai di rumah dan lingkungan kita?

4. Berjalan di dalam Terang TUHAN (Ayat 5)

Yesaya menutup bagian ini dengan seruan: “Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang TUHAN!” Ini adalah ajakan untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, meninggalkan kegelapan dosa, dan hidup dalam kebenaran.

Sebagai bapak-bapak, kita dipanggil untuk menjadi teladan. Anak-anak kita belajar bukan hanya dari apa yang kita katakan, tetapi dari apa yang mereka lihat dalam hidup kita. Jika kita berjalan dalam terang Tuhan, keluarga kita akan mengikuti jejak kita.

Berjalan dalam terang berarti:

  • Menjaga integritas dalam pekerjaan dan bisnis.
  • Setia dalam ibadah dan pelayanan.
  • Mengasihi pasangan dan anak-anak dengan tulus.
  • Menjauhi segala bentuk kejahatan dan kebiasaan buruk.

Pertanyaan bagi kita: Apakah hidup kita sudah mencerminkan terang Kristus? Apakah keluarga kita melihat Yesus melalui diri kita?

Kesimpulan

Bapak-bapak yang dikasihi Tuhan, Yesaya 2:1-5 memberikan kepada kita sebuah visi yang mulia dan panggilan yang jelas:

1. Tuhan harus ditinggikan dalam hidup kita. Jangan biarkan masalah dunia mengalahkan iman kita.

2. Kita dipanggil untuk terus naik dan belajar. Jadilah murid Kristus yang setia, baik secara pribadi maupun dalam persekutuan.

3. Kita dipanggil untuk menjadi pembawa damai. Ubah konflik menjadi berkat, dan jadikan rumah kita tempat yang penuh kasih.

4. Kita dipanggil untuk berjalan dalam terang Tuhan. Jadilah teladan bagi keluarga dan lingkungan kita.

Marilah kita sebagai kaum bapak mengambil komitmen hari ini: “Mari kita naik ke gunung TUHAN, dan berjalan di dalam terang-Nya!”

Doa Penutup

Ya Tuhan, Allah yang mahatinggi,

Kami bersyukur karena Engkau telah berbicara kepada kami melalui firman-Mu. Kami mengaku bahwa sering kali kami sebagai bapak-bapak gagal menjadi pemimpin rohani dalam keluarga. Kami lebih sibuk dengan pekerjaan dan masalah dunia, sehingga melupakan Engkau.

Ampunilah kami, ya Tuhan. Tolonglah kami untuk meninggikan Engkau di atas segala-galanya. Berikanlah kepada kami kerinduan untuk terus belajar Firman-Mu dan bertumbuh dalam iman.

Ubah hati kami, ya Tuhan. Jadikan kami pembawa damai di tengah keluarga dan masyarakat. Gantikan kemarahan kami dengan kasih, dan egoisme kami dengan kerendahan hati.

Mampukan kami untuk berjalan di dalam terang-Mu setiap hari. Biarlah hidup kami menjadi kesaksian yang nyata bagi anak-anak, istri, dan semua orang di sekitar kami.

Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.

Tuhan memberkati kita sekalian. — Persekutuan Kaum Bapak —
👩

Refleksi Persekutuan Wanita (PW)

Tema: “Mari, Naik ke Gunung TUHAN”

Pendahuluan

Ibu-ibu yang dikasihi Tuhan,

Ketika kita berkumpul dalam Persekutuan Wanita, kita diingatkan bahwa sebagai wanita, kita memiliki peran yang sangat berharga dalam keluarga dan gereja. Kita adalah jantung dari rumah tangga, pendidik pertama bagi anak-anak, dan pendoa yang setia. Yesaya 2:1-5 memberikan kepada kita sebuah visi yang indah tentang apa yang Tuhan kehendaki bagi umat-Nya, dan bagaimana kita sebagai wanita dapat mengambil bagian di dalamnya.

Nabi Yesaya menyampaikan firman Tuhan pada masa yang penuh gejolak. Bangsa Israel hidup dalam ancaman perang dan ketidakpastian. Namun di tengah situasi itu, Tuhan memberikan penglihatan tentang masa depan yang penuh damai dan pengharapan. Firman ini bukan sekadar janji jauh, tetapi panggilan nyata bagi kita hari ini.

1. Gunung TUHAN yang Ditinggikan (Ayat 2)

Yesaya melihat bahwa pada hari-hari yang terakhir, gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di atas gunung-gunung yang lain. Gunung dalam Alkitab sering melambangkan kekuatan, kekuasaan, dan tempat perjumpaan dengan Allah. Di sini, gunung TUHAN ditinggikan—artinya Allah dan kerajaan-Nya jauh lebih tinggi dan berkuasa dari segala sesuatu di dunia ini.

Sebagai ibu-ibu, kita sering menghadapi “gunung-gunung” dalam hidup: masalah keluarga, kesehatan, ekonomi, dan beban emosional. Namun firman Tuhan mengingatkan kita bahwa gunung TUHAN—hadirat dan kuasa-Nya—lebih tinggi dari semuanya. Jika kita mengutamakan Tuhan, Dia akan meninggikan hidup kita dan keluarga kita.

Pertanyaan bagi kita: Apakah kita sudah menjadikan Tuhan sebagai prioritas utama dalam keluarga? Apakah “gunung” masalah kita terlihat lebih besar daripada gunung TUHAN?

2. Panggilan untuk Naik dan Belajar (Ayat 3)

Ayat 3 menggambarkan banyak suku bangsa yang saling mengajak: “Mari, kita naik ke gunung TUHAN... supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya.” Ini adalah panggilan untuk bertumbuh dalam iman, untuk naik lebih tinggi secara rohani, dan untuk belajar dari Tuhan.

Sebagai kaum wanita, kita dipanggil untuk menjadi murid-murid Kristus yang terus belajar. Kita tidak boleh merasa cukup dengan pengetahuan rohani yang dangkal. Kita perlu mendalami Firman Tuhan, berdoa, dan mencari kehendak-Nya. Dengan demikian, kita dapat mengajar anak-anak kita dan menjadi berkat bagi keluarga.

Panggilan ini bersifat komunitas: “Mari kita naik.” Artinya, kita tidak berjalan sendiri. Persekutuan Wanita adalah wadah di mana kita saling menguatkan, saling mendoakan, dan saling mengingatkan untuk naik lebih tinggi dalam iman.

Pertanyaan bagi kita: Sudahkah kita memiliki kerinduan untuk terus belajar Firman Tuhan? Apakah kita aktif mengajak keluarga dan saudara seiman untuk bersama-sama mencari Tuhan?

3. Damai Sejahtera dan Rekonsiliasi (Ayat 4)

Ayat 4 adalah gambaran indah tentang damai sejahtera: pedang ditempa menjadi mata bajak, tombak menjadi pisau pemangkas. Bangsa tidak lagi mengangkat pedang dan tidak lagi belajar perang. Ini adalah visi tentang rekonsiliasi dan kehidupan yang produktif.

Dalam konteks kaum wanita, “pedang” dan “tombak” bisa melambangkan kata-kata tajam, gosip, kemarahan, iri hati, dan konflik dalam keluarga. Tuhan ingin kita mengubahnya menjadi “mata bajak” dan “pisau pemangkas”—alat yang membangun, menumbuhkan, dan menghasilkan buah yang baik.

Sebagai ibu dan istri, kita dipanggil untuk menjadi pembawa damai. Rumah kita harus menjadi tempat di mana kasih dan pengampunan bertumbuh, bukan tempat pertengkaran dan kekerasan. Ketika kita menyerahkan hidup kepada Tuhan, Dia akan mengubah konflik menjadi berkat.

Pertanyaan bagi kita: Apakah kita masih menyimpan “pedang” dalam hati terhadap suami, anak, atau sesama? Apakah kita sudah menjadi pembawa damai di rumah dan lingkungan kita?

4. Berjalan di dalam Terang TUHAN (Ayat 5)

Yesaya menutup bagian ini dengan seruan: “Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang TUHAN!” Ini adalah ajakan untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, meninggalkan kegelapan dosa, dan hidup dalam kebenaran.

Sebagai wanita, kita dipanggil untuk menjadi teladan. Anak-anak kita belajar bukan hanya dari apa yang kita katakan, tetapi dari apa yang mereka lihat dalam hidup kita. Jika kita berjalan dalam terang Tuhan, keluarga kita akan mengikuti jejak kita.

Berjalan dalam terang berarti:

  • Menjaga tutur kata yang baik dan penuh kasih.
  • Setia dalam ibadah dan pelayanan.
  • Mengasihi suami dan anak-anak dengan tulus.
  • Menjauhi gosip, iri hati, dan kebiasaan buruk.

Pertanyaan bagi kita: Apakah hidup kita sudah mencerminkan terang Kristus? Apakah keluarga kita melihat Yesus melalui diri kita?

Kesimpulan

Ibu-ibu yang dikasihi Tuhan, Yesaya 2:1-5 memberikan kepada kita sebuah visi yang mulia dan panggilan yang jelas:

1. Tuhan harus ditinggikan dalam hidup kita. Jangan biarkan masalah dunia mengalahkan iman kita.

2. Kita dipanggil untuk terus naik dan belajar. Jadilah murid Kristus yang setia, baik secara pribadi maupun dalam persekutuan.

3. Kita dipanggil untuk menjadi pembawa damai. Ubah konflik menjadi berkat, dan jadikan rumah kita tempat yang penuh kasih.

4. Kita dipanggil untuk berjalan dalam terang Tuhan. Jadilah teladan bagi keluarga dan lingkungan kita.

Marilah kita sebagai kaum wanita mengambil komitmen hari ini: “Mari kita naik ke gunung TUHAN, dan berjalan di dalam terang-Nya!”

Doa Penutup

Ya Tuhan, Allah yang mahatinggi,

Kami bersyukur karena Engkau telah berbicara kepada kami melalui firman-Mu. Kami mengaku bahwa sering kali kami sebagai wanita gagal menjadi teladan iman dalam keluarga. Kami lebih sibuk dengan urusan rumah tangga dan pekerjaan, sehingga melupakan Engkau.

Ampunilah kami, ya Tuhan. Tolonglah kami untuk meninggikan Engkau di atas segala-galanya. Berikanlah kepada kami kerinduan untuk terus belajar Firman-Mu dan bertumbuh dalam iman.

Ubah hati kami, ya Tuhan. Jadikan kami pembawa damai di tengah keluarga dan masyarakat. Gantikan kemarahan kami dengan kasih, gosip kami dengan pujian, dan iri hati kami dengan syukur.

Mampukan kami untuk berjalan di dalam terang-Mu setiap hari. Biarlah hidup kami menjadi kesaksian yang nyata bagi suami, anak-anak, dan semua orang di sekitar kami.

Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.

Tuhan memberkati kita sekalian. — Persekutuan Wanita —
🧑

Refleksi Persekutuan Anggota Muda (PAM)

Tema: “Mari, Naik ke Gunung TUHAN”

Pendahuluan

Saudara-saudara anggota muda yang dikasihi Tuhan,

Sebagai anggota muda, kita sedang berada di masa yang penuh energi, semangat, dan potensi. Kita sedang membangun masa depan, mengejar cita-cita, dan mencari jati diri. Namun di tengah semua itu, kita sering dihadapkan pada banyak pilihan dan tekanan: dari teman, dari media sosial, dari lingkungan, dan bahkan dari dalam diri kita sendiri.

Yesaya 2:1-5 adalah firman Tuhan yang sangat relevan bagi kita. Nabi Yesaya menyampaikan visi tentang masa depan di mana Tuhan ditinggikan dan umat-Nya dipanggil untuk naik lebih tinggi secara rohani. Firman ini mengajak kita untuk tidak puas dengan hal-hal yang biasa, tetapi mengejar hal-hal yang mulia dan kekal.

1. Gunung TUHAN yang Ditinggikan (Ayat 2)

Yesaya melihat bahwa gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di atas gunung-gunung yang lain. Gunung dalam Alkitab melambangkan kekuatan dan kekuasaan. Artinya, Tuhan dan kerajaan-Nya jauh lebih tinggi dan berkuasa dari segala sesuatu di dunia ini.

Sebagai anggota muda, kita punya banyak “gunung” dalam hidup: cita-cita, prestasi, popularitas, pacar, hobi, atau gadget. Semua itu tidak salah, tetapi ketika kita menempatkannya lebih tinggi dari Tuhan, hidup kita akan kehilangan arah. Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa gunung TUHAN—hadirat dan kuasa-Nya—harus menjadi yang tertinggi dalam hidup kita.

Pertanyaan bagi kita: Apa yang paling kita utamakan dalam hidup ini? Apakah Tuhan sudah menjadi nomor satu, atau masih kalah dari hal-hal lain?

2. Panggilan untuk Naik dan Belajar (Ayat 3)

Ayat 3 menggambarkan banyak suku bangsa yang saling mengajak: “Mari, kita naik ke gunung TUHAN... supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya.” Ini adalah panggilan untuk bertumbuh, untuk naik lebih tinggi secara rohani, dan untuk terus belajar dari Tuhan.

Sebagai anggota muda, kita dipanggil untuk menjadi murid-murid Kristus yang haus akan kebenaran. Kita tidak boleh merasa cukup dengan pengetahuan rohani yang dangkal. Kita perlu mendalami Firman Tuhan, berdoa, dan mencari kehendak-Nya. Dunia menawarkan banyak “pengajaran” melalui media sosial, film, dan musik—tetapi hanya Firman Tuhan yang menuntun kita kepada kehidupan yang sejati.

Panggilan ini bersifat komunitas: “Mari kita naik.” Artinya, kita tidak berjalan sendiri. Persekutuan Anggota Muda adalah wadah di mana kita saling menguatkan, saling mendoakan, dan saling mengingatkan untuk naik lebih tinggi dalam iman.

Pertanyaan bagi kita: Sudahkah kita memiliki kerinduan untuk terus belajar Firman Tuhan? Apakah kita aktif mengajak teman-teman untuk bersama-sama mencari Tuhan?

3. Damai Sejahtera dan Rekonsiliasi (Ayat 4)

Ayat 4 adalah gambaran indah tentang damai sejahtera: pedang ditempa menjadi mata bajak, tombak menjadi pisau pemangkas. Bangsa tidak lagi mengangkat pedang dan tidak lagi belajar perang. Ini adalah visi tentang rekonsiliasi dan kehidupan yang produktif.

Dalam konteks anggota muda, “pedang” dan “tombak” bisa melambangkan kata-kata kasar, permusuhan, persaingan tidak sehat, bullying, dan konflik dengan teman atau keluarga. Tuhan ingin kita mengubahnya menjadi “mata bajak” dan “pisau pemangkas”—alat yang membangun, menumbuhkan, dan menghasilkan buah yang baik.

Sebagai generasi muda, kita dipanggil untuk menjadi pembawa damai. Di sekolah, kampus, tempat kerja, dan lingkungan kita, kita harus menjadi terang yang membawa kasih dan pengampunan. Ketika kita menyerahkan hidup kepada Tuhan, Dia akan mengubah konflik menjadi berkat.

Pertanyaan bagi kita: Apakah kita masih menyimpan “pedang” dalam hati terhadap teman atau saudara? Apakah kita sudah menjadi pembawa damai di lingkungan kita?

4. Berjalan di dalam Terang TUHAN (Ayat 5)

Yesaya menutup bagian ini dengan seruan: “Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang TUHAN!” Ini adalah ajakan untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, meninggalkan kegelapan dosa, dan hidup dalam kebenaran.

Sebagai anggota muda, kita dipanggil untuk menjadi teladan. Masa muda adalah masa yang krusial untuk membangun kebiasaan rohani yang baik. Jika kita berjalan dalam terang Tuhan sejak muda, kita akan menuai buah yang manis di masa depan.

Berjalan dalam terang berarti:

  • Menjaga integritas dalam studi dan pekerjaan.
  • Setia dalam ibadah dan pelayanan.
  • Menggunakan media sosial dengan bijak dan penuh kasih.
  • Menjauhi pergaulan yang buruk dan kebiasaan yang merusak.

Pertanyaan bagi kita: Apakah hidup kita sudah mencerminkan terang Kristus? Apakah teman-teman kita melihat Yesus melalui diri kita?

Tantangan bagi Anggota Muda

1. Mulailah hari ini dengan membaca Firman Tuhan setiap hari, minimal 1 pasal.

2. Ajak minimal satu teman untuk bergabung dalam persekutuan atau doa bersama.

3. Berkomitmen untuk menjadi pembawa damai di rumah, kampus, atau tempat kerja.

4. Gunakan media sosial untuk hal-hal yang membangun, bukan untuk gosip atau pertengkaran.

Kesimpulan

Saudara-saudara anggota muda yang dikasihi Tuhan, Yesaya 2:1-5 memberikan kepada kita sebuah visi yang mulia dan panggilan yang jelas:

1. Tuhan harus ditinggikan dalam hidup kita. Jangan biarkan hal-hal dunia mengalahkan iman kita.

2. Kita dipanggil untuk terus naik dan belajar. Jadilah murid Kristus yang setia, baik secara pribadi maupun dalam persekutuan.

3. Kita dipanggil untuk menjadi pembawa damai. Ubah konflik menjadi berkat, dan jadikan lingkungan kita tempat yang penuh kasih.

4. Kita dipanggil untuk berjalan dalam terang Tuhan. Jadilah teladan bagi teman-teman dan keluarga kita.

Marilah kita sebagai anggota muda mengambil komitmen hari ini: “Mari kita naik ke gunung TUHAN, dan berjalan di dalam terang-Nya!”

Doa Penutup

Ya Tuhan, Allah yang mahatinggi,

Kami bersyukur karena Engkau telah berbicara kepada kami melalui firman-Mu. Kami mengaku bahwa sering kali kami sebagai anggota muda terlalu sibuk dengan dunia, dengan media sosial, dengan cita-cita, sehingga melupakan Engkau.

Ampunilah kami, ya Tuhan. Tolonglah kami untuk meninggikan Engkau di atas segala-galanya. Berikanlah kepada kami kerinduan untuk terus belajar Firman-Mu dan bertumbuh dalam iman.

Ubah hati kami, ya Tuhan. Jadikan kami pembawa damai di tengah keluarga, teman-teman, dan masyarakat. Gantikan kemarahan kami dengan kasih, persaingan kami dengan kerja sama, dan egoisme kami dengan kerendahan hati.

Mampukan kami untuk berjalan di dalam terang-Mu setiap hari. Biarlah hidup kami menjadi kesaksian yang nyata bagi teman-teman, keluarga, dan semua orang di sekitar kami.

Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.

Tuhan memberkati kita sekalian. — Persekutuan Anggota Muda —